Halaman

Minggu, 04 Desember 2011

R.A. Kartini dan Ki Hajar Dewantara, Dua Tokoh Pendidikan Indonesia

R.A Kartini
Kalau kita teliti, jejak perjuangan Kartini adalah perjuangan agar perempuan Indonesia bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Bukan perjuangan untuk emansipasi di segala bidang. Kartini menyadari, perempuan memiliki peran penting dalam kehidupan. Agar dapat menjalankan perannya dengan baik, perempuan harus mendapat pendidikan yang baik pula.
Dalam sebuah suratnya, kepada Prof. Anton dan Nyonya pada 4 Oktober 1902 Kartini menulis, ‘Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”.
Atas kesadaran tersebut, Kartini berniat melanjutkan sekolah ke Belanda, Aku mau meneruskan pendidikanku ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah kupilih” (Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 1900). Waktu itu, Kartini beranggapan bahwa Eropa adalah tempat peradaban tertinggi dan paling sempurna di muka bumi. Namun, rencana itu tak pernah berhasil. Kartini hanya mendapat kesempatan menempuh sekolah guru di Betawi. Kesempatann ini pun batal dijalaninya karena dia harus menikah dengan R.M.A.A. Singgih Djojo Adhiningrat.
Walaupun awalnya banyak menentang adat Jawa yang kaku dan kebiasaan bangsawannya berpoligami, Kartini menerima pernikahan tersebut. Ada sebuah kesadaran di benaknya, dengan menikah dia akan berkesempatan untuk mendirikan sekolah bagi perempuan bumiputra. Alasan ini masuk akal karena suaminya adalah seorang bupati yang berkuasa dan mengizinkan bahkan mendukungnya untuk mendirikan sekolah. Keputusan yang luar biasa dari seorang pahlawan sejati.
Pada hari pernikahannya, seorang ustad dari Semarang, Haji Mohammad Sholeh bin Umar, menghadiahkan beberapa juz al-Quran berbahasa Jawa. Kegelisahan Kartini terhadap agama Islam pun terjawab. Sebelumnya, dalam kehidupan sehari-harinya Kartini hanya diajarkan membaca al-Quran tanpa diizinkan untuk mengetahui artinya.
Setelah mempelajari al-Quran, pandangan Kartini terhadap beberapa hal pun berubah. Di antaranya, pandangannya terhadap peradaban Eropa, “…, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902). Pandangan Kartini terhadap poligami pun berganti, jika awalnya menentang, setelah mengenal ajaran Islam dia menerimanya.
Sayangnya, Haji Mohammad Sholeh meninggal sebelum sempat menyelesaikan seluruh terjemahan al-Quran untuk Kartini. Kartini pun hanya mempelajari beberapa jus terjemahan tersebut. Jika saja dia sempat mempelajari keseluruhan Al Quran, tidak mustahil ia akan menerapkan semua kandungannya. Kartini berani berbeda dengan tradisi adatnya yang mapan, dia juga memiliki ketaatan yang tinggi terhadap ajaran Islam. Bukunya yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terangmina dulumati ila nuur. Kartini menyadari bahwa sumber pendidikan terbaik justru ada di dekatnya, yaitu Al-Quran, bukan di Eropa. pun terinspirasi dari Surat Al-Baqarah ayat 193:
13 Septembar 1904, Kartini meninggal pada usia yang masih muda, 25 tahun dan dimakamkan di Rembang. Untuk menghormatinya, Van Deventer, seorang tokoh politik Etis, mendirikan Yayasan Kartini (1912). Yayasan tersebut bertugas mengelola “Sekolah Kartini” yang didirikan di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan daerah lainnya.




Ki Hajar Dewantara
Tokoh ini sangat identik dengan pendidikan di Indonesia. Dia dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Hari lahirnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya pun dipakai oleh Departemen Pendidikan RI sebagai jargon, yaitu tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarsa sungtulada (di belakang memberi dorongan, di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa, di depan memberi teladan).
Ki Hajar Dewantara dilahirkan di Yogyakarta (2 Mei 1889) dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Semasa kecilnya, RM Soewardi Soeryaningrat sekolah di ELS (SD Belanda). Kemudian, ia melanjutkan ke STOVIA (sekolah dokter bumiputra), namun tidak tamat. Setelah itu, dia bekerja sebagai wartawan di Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Tulisan-tulisannya sangat tajam dan patriotik sehingga membangkitkan semangat antipenjajahan.
Selain menjadi wartawan, RM Soerwardi Soeryaningrat juga aktif di organisasi sosial dan politik. Tahun 1908 ia aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo. Kemudian, bersama Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, ia mendirikan Indische Partij (25 Desember 1912) yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Namun partai ini ditolak oleh pemerintah Belanda.
Kemudian, ia dan kawan-kawannya membentuk Komite Bumipoetra (1913) untuk melancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis. Untuk membiayai pesta tersebut Pemerintah Belanda menarik uang dari rakyat jajahannya. RM Soewardi Soeryaningrat mengkritik lewat tulisannya “Als Ik Eens Nederlander Was” (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga).
Akibat tulisannya itu, RM Soerwardi Soeryaningrat dijatuhi hukuman buang ke Pulau Bangka oleh Gubernur Jenderal Idenburg tanpa proses pengadilan. Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo yang merasa rekan seperjuangan diperlakukan tidak adil menerbitkan tulisan untuk membela Soewardi. Belanda menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk memberontak pada pemerinah kolonial. Akibatnya, keduanya pun terkena hukuman buang, Douwes Dekker ke Kupang dan Cipto Mangoenkoesoemo ke Banda.
Hukuman itu ditolak, mereka meminta untuk dibuang ke Negeri Belanda agar bisa belajar. Keinginan tersebut diterima dan mereka diizinkan ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman. Selama di negara kincir angin tersebut, Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berhasil memperoleh Europeesche Akte dan kembali ke tanah air pada 1918.
Sekembalinya ke tanah air, bersama rekan-rekannya, RM Soewardi Soeryaningrat mendirikan Perguruan Nasional Tamansiswa (3 Juli 1922). Perguruan ini mendidik para siswanya untuk memiliki nasionalisme sehingga mau berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Demi memuluskan langkahnya-langkahnya, RM Soewardi Soeryaningrat pun berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara. Sebagai seorang bangsawan yang berasal dari lingkungan Kraton Yogyakarta dan dengan gelar RM di depan namanya, dia kurang leluasa bergerak.
Aktivitas Tamansiswa pun ditentang oleh Pemerintah Belanda melalui Ordonasi Sekolah Liar pada 1932. Dengan gigih RM Soewardi Soeryaningrat pun berjuang hingga ordonansi itu dicabut. Sambil mengelola Tamansiswa, RM Soewardi Soeryaningrat tetap rajin menulis. Namun bukan lagi soal politik, melainkan soal pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Melalui tulisan-tulisan itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.
Tahun 1943, ketika Jepang menduduki Indonesia, Ki Hajar Dewantara bergabung ke Pusat Tenaga Rakyat (Putera). Di organisasi tersebut, dia menjadi salah seorang pimpinan bersama Soekarno, Muhammad Hatta, dan K.H. Mas Mansur. Setelah Indonesia merdeka, ia pun dipercaya menjabat Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan yang pertama. Berbagai aktivitasnya dalam memperjuangkan pendidikan di tanah air sebelum hingga Indonesia merdeka tersebut, membuatnya dianugerahui gelar doktor kehormatan oleh Universitas Gadjah Mada (1957).
Ki Hajar Dewantara meninggal pada 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di Kampung Celeban (Yogyakarta). Kemudian, atas jasa-jasanya, pendiri Tamansiswa itu ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional. Ki Hajar Dewantara pun mendapat gelar Bapak Pendidikan Nasional dan tanggal kelahirannya, 02 Mei, ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional.
Itulah dia, R.A. Kartini dan Ki Hajar Dewantara. Bangsa ini perlu mewarisi semangat mereka dalam memajukan manusia Indonesia dengan sepenuh hati dan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan jenis kelamin.***

Cara Kreatif Belajar Asyik & Gembira

Setiap orang tua tentunya mengharapkan anaknya senang belajar dan meraih prestasi, kalau perlu sejak usia dini. Karena itu, orang tua perlu menciptakan budaya belajar (learning culture) pada anak, bukan sekedar kebiasaan belajar (learning habit).
Learning Culture berarti anak memiliki motivasi, semangat dan kebiasaan belajar karena adanya tujuan yang jelas. Pada akhirnya belajar dirasakan sebagai kebutuhan bagi anak. Berbeda dengan learning habit yang semata-mata karena mengejar target dan melaksanakan apa yang diminta pihak luar anak.
Di sinilah peran pentingnya kreativitas orang tua menciptakan suasana yang mampu membentuk motivasi, semangat belajar dan rasa bahagia anak untuk terus, terus, dan terus belajar. Berikut ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan oleh orang tua, yaitu :
  • Meja Belajar Nan Cantik. Meja, menjadi salah satu perangkat utama kegiatan belajar, karenanya anak akan cepat termotivasi belajar jika Anda percantik mejanya.
  • Jadwal Pelajaran Karya Sendiri. Sesederhana, seremeh dan sekonyol apapun ide anak, patut dihargai sebagai sebuah prestasi. Semakin pandai Anda menghargai ide anak, semakin tinggi rasa percaya diri mereka terbentuk.
  • Dinding Corat-Coret. Kreatifitas dan imajinasi Anak akan semakin terasah jika disediakan fasilitas yang menantang, sehingga mereka bisa bebas mengekspresikan emosinya. Semakin bebas ekspresi mereka, semakin tinggi imajinasi mereka berkelana.
  • Pernak-Pernik Unik Teman Belajar. Pernik unik cantik nan menarik mungkin luput dari perhatian orang dewasa. Tetapi bagi anak, bisa jadi memiliki arti yang sangat penting, apalagi jika benda-benda tersebut memiliki arti emosional tersendiri bagi mereka.
  • Musik Ringan Pemicu Semangat. Irama dan musik adalah spesifikasi bidang kerja otak kanan, yang jika diaktifkan akan mampu menghilangkan kejenuhan anak.
  • Gembira dengan CD Rom. Keasyikan menonton film di televisi, menjadi pembunuh utama semangat belajar anak. untuk mengalahkan pengaruhnya, harus dicari multimedia pembelajaran yang tak kalah menariknya.
  • Sampul Buku Istimewa. Buku itu ibarat makanan pokok bagi proses belajar anak. Mempercantik sampul buku, bisa menjadi jurus jitu agar anak suka memegang buku
  • Beralas Tikar di Kebun. Aroma istimewa dari alam yang memasuki otak, membawa sensasi emosional yang teramat mendalam sehingga informasi yang diiringinya memperoleh tempat khusus dalam memori otak dan melekat erat di sana.
  • Bermain Kartu Matematika. Permainan kartu, biasanya sangat menarik perhatian anak. Bahkan hanya sekadar mengoleksi beragam gambarnya pun mereka sudah senang.
  • TTS Sejarah.  Cara menghafal dengan menggunakan hanya otak kiri, melelahkan dan tidak optimal. Sebaliknya dengan menciptakan sebuah permainan dan teka-teki tentang hafalan tersebut, akan mengaktifkan otak kanan dan membuat hafalan menjadi mudah.
  • Spidol Warna-Warni. Sensasi warna akan mengaktifkan otak kanan anak. Selanjutnya menghilangkan kejenuhan, lelah mata dan kantuk. Maka, anak menjadi lebih semangat 'menelan' pelajarannya.
  • Foto, Motto dan Hiasan di Dinding. Sifat dasar manusia adalah ia suka melihat dirinya sendiri. Kebanggaan itu, bisa dimanfaatkan untuk memacu semangat mereka dalam belajar.
  • Pembatas Buku Kreatif.  Walaupun hanya barang mungil yang tampak remeh, namun manfaat pembatas buku cukup besar untuk mempermudah belajar.
  • Tenda Belajar di Halaman. Sesekali belajar di luar rumah bisa menghilangkan kebosanan anak.
  • Tenda Sprei di dalam Rumah. Jangan takut pada kekacauan dalam rumah, sepanjang hal tersebut tidak terjadi setiap hari. karena ketertiban dan kerapihan hanyalah hidangan untuk otak kiri semata. Jadi, ijinkan otak kanan anak untuk diaktifkan, antara lain melalui imajinasi, yang sepintas tambak 'kacau balau' itu.
  • Membuat Rekaman Pelajaran. Beberapa anak memiliki gaya belajar audio, yang lebih suka belajar menggunakan telinga, membuat rekaman pelajaran akan membantunya menangkap maksud pelajaran
  • Perpustakaan Mini. Semakin banyak buku dan fasilitas belajar yang tersedia, akan semakin mudah membangkitkan semangat belajar anak.
  • Merangkum dengan Mind Mapping. Cara kerja otak ternyata tidak linear, tetapi ke segala arah. Itu sebabnya, cara mencatat dengan hanya searah, yaitu horizontal dari kiri ke kanan, justru membuat otak cepat lelah. Dengan membuatnya menyebar ke segala arah, lebih mudah untuk ditangkap otak
  • Lagu Khusus Untuk Hafalan Pelajaran. Ciptakan lirik khusus sesuai bahan pelajaran yang dipelajari, menggantikan lirik lagu favorit yang sudah dihafal anak.
  • Kartu Pos Rumus-Rumus. Semakin menarik anak membuat hiasan untuk daftar kumpulan rumusnya, maka semakin bersemangat mereka menghafalnya.
  • Kuda Goyang atau Ayunan.  Buat anak yang memiliki gaya belajar kinestetis, maka cara belajar yang terbaik adalah ketika mereka bisa terus bergerak.
  • Percobaan-Percobaan Kecil. Percobaan sederhana, selain menggembirakan, juga memudahkan mereka untuk memahami bahan pelajaran.
  • Seluruh Rumah Adalah Tempat Belajar. Pintu kamar, televisi, rak buku, hingga dinding kamar mandi yang ditempelkan kartu rumus/hafalan bisa berfungsi sebagai tempat belajar.
  • Membuat Pertanyaan Sendiri. Pada dasarnya, orang lebih suka membuat pertanyaan daripada jawaban. Mintalah anak membuat pertanyaan sebanyak-banyaknya, karena secara langsung mereka telah menemukan jawabannya.
Semoga Bermanfaat

Sumber :
Irawati Istadi, 30 Cara Kreatif Belajar Asyik Gembira Bekasi : Pustaka Inti, 2007

Studying Creative Industry at Limkokwing University

Lagi nyari tempat kuliah yang bikin kita bebas berkreasi dan berkarya? Limkokwing  University of Crative Technology Malaysia ini tempatnya. Banyak jurusan kreatif seperti: Graphic Design, Fashion Design, Multimedia, Animation, Film & TV, Games, Art Development dan lainnya yang siap kamu pilih. Kampusnya yang tersebar di 3 benua, Asia, Afrika, dan Eropa bikin kamu punya kesempatan buat ikut Global Classroom, study tour ke cabang kampusnya! Seru, ya? Tugas kuliahnya juga beda banget loh, karena ditunjuk langsung oleh industri yang jadi partner Limkokwing, seperti Air Asia, Maxis dan Vincci shoes, jadi mahasiswanya terbiasa buat bikin "real project". Kamu bisa ikuti dulu kuliah persiapannya di Jakarta selama setahun, trus lanjut deh kuliah di Malaysia. Yuk, jadi bagian dari industri kreatif bareng Limkokwing  University!

Central Park Podomoro City Blok B No. 8AK, 8AM Tanjung Duren Selatan. West Jakarta.11470
Tel: (021) 261 05998, (021) 261 05989


Sumber: gogirl 77/Jun 2011 MAGAZINE FOR REAL